๐ฆ๐ฐ๐ต๐ฒ๐ฑ๐๐น๐ฒ ๐ต๐ฌ%, ๐๐ฎ๐ฝ๐ถ ๐ธ๐ฒ๐ป๐ฎ๐ฝ๐ฎ ๐ฝ๐ฟ๐ผ๐๐ฒ๐ธ ๐ฏ๐ฒ๐น๐๐บ ๐๐ถ๐ฎ๐ฝ ๐๐ผ๐บ๐บ๐ถ๐๐๐ถ๐ผ๐ป๐ถ๐ป๐ด?
Schedule sudah menunjukkan progress 90%. Tapi kenapa proyek belum siap untuk Commissioning?
Situasi seperti ini cukup mungkin terjadi dalam proyek EPC Oil & Gas.
Di dalam progress report, angka 90% tentu terlihat meyakinkan. Engineering hampir selesai, sebagian besar equipment sudah terpasang, pekerjaan piping mendekati completion, dan pekerjaan electrical serta instrumentation juga terus berjalan.
Secara keseluruhan, proyek terlihat sudah mendekati garis akhir.
Namun ketika kesiapan mulai diperiksa berdasarkan system dan subsystem, kondisinya bisa berbeda.
Beberapa piping test package mungkin belum closed. Reinstatement setelah hydrotest masih berjalan. Beberapa punch item masih memengaruhi operability. Motor sudah terpasang tetapi belum energized. Instrument sudah installed tetapi loop check belum complete. Bahkan utility yang dibutuhkan untuk menjalankan commissioning mungkin belum tersedia.
Artinya, physical progress yang tinggi belum tentu sama dengan commissioning readiness.
Pada tahap construction, progress memang banyak dihitung berdasarkan quantity: berapa ton structure yang sudah erected, berapa meter piping yang sudah installed, berapa equipment yang sudah terpasang, atau berapa meter cable yang sudah ditarik.
Tetapi semakin dekat proyek menuju commissioning, pertanyaannya mulai berubah.
Bukan hanya:
“Berapa persen pekerjaan yang sudah selesai?”
Tetapi juga:
“System mana yang benar-benar sudah siap diserahkan ke Commissioning?”
Bayangkan sebuah pump system.
Pump sudah terpasang. Suction dan discharge piping sudah selesai. Cable sudah ditarik dan secara visual pekerjaan terlihat hampir complete.
Tetapi pump tersebut belum tentu siap untuk commissioning.
Alignment mungkin belum accepted. Motor belum energized. Lubrication belum complete. Piping belum selesai reinstatement. Instrument belum selesai loop check. Atau suction system yang dibutuhkan untuk menjalankan pump belum tersedia.
Satu outstanding yang critical dapat membuat sebuah system belum siap untuk masuk ke tahap berikutnya.
Karena itu, semakin mendekati akhir construction, cara melihat progress juga perlu mulai bergeser:
Area Completion → System Completion
Quantity Installed → System Ready
Kemudian dilanjutkan melalui tahapan:
Construction → Mechanical Completion → Pre-Commissioning → Commissioning → Start-Up → Handover
Di sinilah pentingnya Project Engineer, Construction Engineer, Planner/Project Control, QA/QC, dan Commissioning Engineer memahami hubungan pekerjaan antar-disiplin.
Karena keberhasilan proyek EPC bukan hanya tentang menyelesaikan pekerjaan masing-masing disiplin.
Tujuan akhirnya adalah menghasilkan facility yang complete, safe, tested, commissioned, ready for start-up, dan siap diserahkan kepada Operations.
Jadi ketika progress report menunjukkan:
PROJECT PROGRESS: 90%
Mungkin ada satu pertanyaan yang tidak kalah penting:
“Berapa banyak system dan subsystem yang benar-benar ready for commissioning?”
Bagaimana dengan pengalaman di project Anda?
Apakah menjelang completion progress masih lebih banyak dilihat berdasarkan physical progress, atau sudah mulai difokuskan pada system completion dan commissioning readiness?
Untuk fresh graduate maupun project team yang ingin memahami bagaimana Engineering, Procurement, Construction, Pre-Commissioning hingga Commissioning saling terhubung dalam sebuah EPC Project, pelajari berbagai program pengembangan kompetensi di:
INUSA Global
www.inusaglobal.com
#EPC #OilAndGas #Commissioning #Construction #ProjectEngineering #ProjectControl #MechanicalCompletion #PreCommissioning #ProjectManagement #INUSAGlobal